Tampilkan postingan dengan label umum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label umum. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 Juli 2016

doktor Ilmu sosial dan ilmu politik universitas muhammadiyah Kupang

Ahmad Atang S1 hingga S3 Lulusan UMM

Untuk pertama kalinya, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melahirkan seorang Doktor yang sejak S1 hingga S3 lulusan dari kampus yang sama. Ahmad Atang dinyatakan lulus dan meraih gelar Doktor setelah mempertahankan disertasinya di depan ujian terbuka Program Doktor Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UMM, Sabtu (2/2). Dengan demikian Atang mencatatkan dirinya sebagai lulusan yang setia studi di UMM.
Sekretaris Prodi Doktor UMM, Dr. Sugeng Puji Leksono membenarkan, Atang adalah lulusan FISIP UMM pada tahun 1990. Studi S2 di Magister Sosiologi UMM diselesaikan pada tahun 1999, dan kini S3 juga lulus dari UMM. “Pak Atang ini orangnya ulet dan termasuk fanatik pada UMM. Beliau sangat percaya diri dengan almamater UMM sebagai bagian dari hidupnya,” komentar Sugeng tentang sosok yang sangat dikenal oleh masyarakat Nusa Tenggara Timur itu.
Di kota asalnya, Kupang, Atang merupakan intelektual yang disegani. Bersama-sama Prof Dr Alo Liliweri, yang juga promotor untuk disertasinya,  Atang kerap membantu pemikiran pemerintah setempat. Itulah sebabnya penelitian yang diangkat tak jauh dari fenomena di daerahnya itu. Judul disertasinya adalah “Gerakan Sosial Berbasis Budaya (Studi tentang Gerakan Sosial Melawan Investasi di Kabupaten Lembata)”.
Ujian terbuka berlangsung hangat karena para penguji memberikan pertanyaan tajam terkait temuan Atang. Selain Alo,penguji lainnya adalah Prof Dr Syamsul Arifin, Prof Dr Ishomudin, Prof Dr Zainudin Maliki, Dr Wahyudi, Dr A Habin, MA, Dr Vina Salviana. Ujian dipimpin oleh Dr Muhadjir Effend, MAP dan sekretaris Dr Latipun. Hampir semua pertanyaan dijawab lancar oleh Atang yang kini menjabat Pembantu Rektor I Universitas Muhammadiyah Kupang itu.
Dalam disertasinya, Atang menemukan beberapa poin penting  tentang kekuatan nilai-nilai budaya lokal yang dijadikan sebagai basis melawan investasi tambang di Lemboto. “Ada nilai-nilai mendasar yang dipegang masyarakat Lemboto sebagai civil society ketika berhadapan dengan Negara dan investor. Nilai-nilai itu adalah lapak, ihin weren matan mear, auq niwang, lewo nahtun dan nubunara,” ungkap Atang.
Nilai-nilai itu pada umumnya menolak investasi tambang yang dianggap mempengaruhi perubahan yang tidak diinginkan. Perlawanan masyarakat dilakukan melalui aksi demonstrasi, sumpah adat, bahkan bentuk pembangkangan lainnya seperti boikot dan penghadangan dan penghalangan.
“Harus diakui bahwa perlawanan itu mengganggu akselerasi pembangunan Lemboto,” kata Atang. Bupati Lemboto, Eliezer Yance Sunur,  yang ikut hadir dalam ujian itu ikut membenarkan dengan ekspresi manggut-manggut.
Lebih jauh, investasi tambang, terutama untuk tambang emas, ditolak warga. “Apalagi emas menurut warga Lemboto ibarat jangkar adat dan budaya, jika dikuasai orang lain maka budaya akan runtuh atau berubah,” tambah Atang. Itulah sebabnya, mitos “jangkar”  itu harus diubah dulu sebelum melakukan investasi dengan cara melibatkan masyarakat setempat dalam mengeksplorasi tambang.
Rektor UMM, Muhadjir Effendy, menyatakan rasa puasnya atas keberhasilan beberapa lulusan  Doktor UMM. Sejauh ini, dalam ujian terbuka yang diikutinya, semua menunjukkan keseriusan sebagai calon doktor yang memang diharapkan menjadi filosof, intelektual dan ilmuwan itu. “Semoga dengan lulusnya pak Atang ini menambah darah segar ilmuwan sosial dan politik di Indonesia, terutama di kawasan Timur Indonesia,” harap Muhadjir.
Tahun ini, UMM membuka satu lagi Prodi S3, yakni Doktor Pendidikan Agama Islam (PAI). Prodi ini masih langka di Indonesia karena hanya terdapat di IAIN Palembang dan UMM saja. “Padahal kebutuhan akan doctor PAI di Indonesia sangat banyak, terutama untuk memenuhi pendidik-pendidik agama Islam di perguruan tinggi dan pengambil kebijakan pendidikan agama,” kata Wakil Direktur Pascasarjana UMM, Prof Dr Syamsul Arifin. (riz/mal/nas)

Senin, 13 Juni 2016

Doktor Universitas Muhammadiyah Kupang


Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali meluluskan seorang Doktor baru. Adalah Abdul Majid yang kini tercatat sebagai doktor yang diluluskan UMM. Mahasiswa yang memiliki latar belakang ilmu kesehatan itu dinyatakan sebagai doktor di bidang Ilmu Sosial dan Ilmu Politik setelah lulus ujian terbuka, Sabtu (20/07).
Disertasi Majid mengangkat “Interaksi Sosial Keperawatan Dalam Terapi Pasien Terinfeksi HIV/AIDS-Kajian Keperawatan Pasien Terinfeksi HIV/AIDS Di Kota Kupang”. Dibawah promotor Prof Dr Alo Liliweri MS serta Co promotor I Dr. Achmad Habib, MA dan Co Promotor II  Prof. Dr. Wahyu Widodo, MSi, dia dapat mempersentasikan hasil penelitian dengan lancar.
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh maraknya isu HIV/AIDS baik di rumah sakit sekitar masyarakat maupun keluarga sehingga menimbulkan maslah sosial yang serius akibat ketakutan penularannya maupun sindrom awal yang dialami. Isu-isu ini dianggap oleh Majid sebagai peningkatan beban psikologis dan sosial pada indovidu yang terjangkit HIV/AIDS.
Masyarakat menganggap HIV/AIDS adalah penyakit yang memalukan yang berakibat dipermalukan, dihindari dan ditolak untuk hidup atau bekerjasama dengan yang lain. “Dengan demikian dukungan sosial dan spiritual mempunyai arti strategis untuk meningkatkan kualitas kesehatan pasien terinfeksi HIV/AIDS”, terang Majid.
Sedangkan tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan bentuk interaksi sosial antara tenaga kesehatan dengan pasien HIV/AIDS di Kota Kupang, menemukan faktor pendukung dan penghambat interaksi sosial antara tenaga kesehatan dengan pasien serta peranan atau fungsi dukungan sosial dalam peningkatan daya tahan tubuh pasien.
Selama melakukan penelitian, Majid menemukan beberapa fakta diantaranya, penderita HIV/AIDS dengan latar belakang pendidikan menengah ke bawah lebih mudah untuk diberikan penyuluhan kesehatan sedangkan penderita dengan latar belakang menengah ke atas cenderung lebih susah diberi penyuluhan. Hal ini disebabkan oleh tingkat “gengsi” pada masing-masing personal berbeda.
Habib mengaku bangga pada Majid karena ketiga masa studi yang telah diambil memiliki latar belakang yang berbeda. “Awalnya saya agak pesimis, namun anda bisa menyelesaikan penelitian ini dengan baik. S2 Kesehatan anda terapkan pada penelitian ini dan hal tersebut sangat membantu,” ucap Habib.
Penelitian yang sudah dilakukan ini menunjukkan temua-temuan diantaranya yang pertama, interaksi sosial dan keperawatan antara tenaga kesehatan (konselor, dokter, perawat dengan Kelompok Dukungan Sebaya (KDS)  dan pasien HIV/AIDS mendapat dukungan sosial dan spiritual.
Kedua, faktor pendukungan interaksi sosial keperawatan adalah tersedia fasilitas tenaga kesehatan, bantuan pemerintah berupa Jamkesmas, pelayanan obat-obatan gratis dan kerjasama antara tenaga kesehatan. Ketiga, Pemenuhan kebutuhan psikologis, sosial dan spiritual sehingga pasien metasa senang dan tenang.
“Dengan pelayanan secara sosial dan spiritual yang baik maka pasien merasa tidak tertekan yang berdampak positif sehingga daya tahan tubuh pasien meningkat”, tambah Majid yang juga berharap agar hal ini dapat terjadi pada semua tenaga kesehatan dalam melayani pasiennya.
 Sementara itu, rektor UMM, Muhadjir Effendy selaku pemimpin sidang ujian memberikan selamat atas penelitian, presentasi yang sudah dilakukan dan atas gelar doktor UMM yang baru disandang Majid. (mal/nes)